Sorotan kepada kompetisi EPA

Kompetisi Elite Pro Academy (EPA) menjadi sorotan. Bukan hanya karena kasus keributan dalam pertandingan Bhayangkara U20 melawan Dewa United U20.
Kegagalan Timnas U17 melangkah ke babak semifinal Kejuaraan Remaja ASEAN U17 2026 juga ikut membawa nama EPA. Mayoritas pemain Timnas U17 bermain di tim Garuda United yang mengikuti kompetisi EPA U18 pada musim 2025-2026.
Garuda United yang bermaterikan pemain-pemain U17 mampu bersaing melawan tim dengan pemain-pemain yang usianya di atas mereka dalam EPA U18. Garuda United sementara berada di peringkat kedua klasemen sementara Grup A EPA U18. Namun ketika bermain di level ASEAN mereka belum mampu menciptakan kerjasama tim yang solid untuk membawa tim meraih kemenangan.

Para pemain yang ditempa di kompetisi EPA U18 belum bisa memperlihatkan kualitas untuk mengangkat Timnas U17 lebih baik dari Malaysia dan Vietnam. Seperti diketahui pada fase grup Timnas U17 kalah 0-1 dari Malaysia dan kesulitan menghadapi permainan Vietnam dalam laga yang harus mereka menangkan. Duel itu berakhir imbang 0-0.
Sebelumnya, setelah Timnas U17 kalah 0-7 dari China dalam pertandingan persahabatan di Stadion Sport Center Kelapa Dua Tangerang pada 8 Februari 2026, pelatih sementara Timnas U17 saat itu, Nova Arianto, berkata para pemain Garuda Muda mendapatkan level intensitas permainan yang berbeda dengan yang biasa mereka dapatkan di kompetisi EPA.
Pembenahan dan peningkatan kualitas permainan sepakbola harus ditingkatkan di kompetisi EPA. Pengelola kompetisi tidak boleh puas hanya karena kompetisi dapat berjalan dari pekan ke pekan sampai musim selesai. Kualitas permainan sepakbolanya harus ditingkatkan.