Kekalahan Timnas U17 adalah tamparan untuk sepakbola Indonesia dan kualitas permainan di kompetisi EPA harus ditingkatkan

Kekalahan 0-7 Timnas Indonesia U17 dari China U17 dalam pertandingan persahabatan tidak boleh dianggap sebagai hal yang tidak perlu dibesarkan karena alasan Timnas U17 baru dibentuk.
Timnas Indonesia U17 memang baru berkumpul dan masih dalam proses mencari pemain terbaik. Pertandingan persahabatan melawan China U17 pada 8 Februari 2026 lalu juga menjadi laga internasional pertama mereka. Masih kagok mungkin. Namun tetap saja kekalahan 0-7 menjadi tamparan keras untuk sepakbola Indonesia.
Kekalahan 0-7 tersebut tidak boleh dianggap sebagai hal yang tidak perlu dibesarkan karena alasan Timnas U17 baru dibentuk atau masih mencari pemain terbaik. Kita harus melihat bahwa kekalahan 0-7 itu menunjukkan kalau kualitas kompetisi usia muda di Indonesia, dalam hal ini kompetisi Elite Pro Academy (EPA), masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain.

Kekalahan tersebut harus menjadi bahan introspeksi. Bukan hanya untuk para pemain Timnas U17, tapi juga pemangku kepentingan di sepakbola Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan teknik.
Sebagain besar pemain Timnas U17 dalam pertandingan melawan China tergabung dalam tim Garuda United. Tim Garuda United dibentuk sejak September 2025 dan kemudian mengikuti kompetisi EPA U18 sejak 11 Oktober 2025. PSSI membentuk Garuda United karena ingin Timnas U17 sukses lagi di Piala Asia AFC U17 dan lolos ke Piala Dunia FIFA U17 seperti pada tahun 2025.
Garuda United dipimpin pelatih Sandhika Pratama yang pada laga melawan China U17 menjadi asisten pelatih bersama Kurniawan Dwi Yulianto dan Dwi Priyo Utomo. Posisi pelatih kepala untuk sementara ditempati Nova Arianto, yang menjadi pelatih Timnas U17 pada tahun 2024-2025.

Garuda United dapat disebut hebat di kompetisi EPA U18. Dengan mayoritas pemain U16, Garuda United memimpin klasemen sementara Grup A EPA U18. Garuda United mencatat 18 kemenangan, sekali seri, dan tiga kali kalah dalam 22 pertandingan sampai 1 Februari 2026.
Namun dalam pertandingan melawan China para pemain Timnas U17 yang sudah lama bermain bersama di Garuda United tidak mampu memperlihatkan chemistry yang baik. Timnas U17 sulit keluar dari tekanan China. Penguasaan bola sering terlalu mudah hilang. Dalam catatan Kamustimnas.com, Timnas U17 baru bisa melepaskan tembakan yang tidak bisa diblok lawan pada menit ke-80. Namun tembakan I Komang Semadi jauh dari sasaran.
Padahal para pemain Timnas U17 bersama Garuda United menjadi pemimpin klasemen sementara di EPA U18, di level usia yang lebih tua dari mereka. Ini memunculkan pertanyaan mengenai kualitas kompetisi EPA.

Timnas adalah muara dari kompetisi. Dalam Timnas level usia artinya kompetisi EPA atau Piala Soeratin yang berkualitas merupakan landasan utama untuk menghasilkan pemain Timnas kelompok usia yang berkualitas.
Pemain Timnas berkualitas seperti apa yang diinginkan? Ya, pemain Timnas yang berkualitas level elite Asia di kelompok usia. Kenapa level Asia? Karena PSSI memiliki keinginan lolos ke Piala Dunia FIFA U17 harus menjadi tradisi Timnas U17.
Jadi, yang dibenahi bukan hanya memberikan banyak pertandingan internasional untuk Timnas U17 atau memasukkan pemain keturunan Indonesia agar Timnas U17 lebih kuat. Yang juga penting adalah meningkatkan kualitas permainan dalam pertandingan-pertandingan di kompetisi EPA, baik U16, U18, maupun U20. Tapi yang lebih penting dan mendasar lagi adalah meningkatkan kualitas pembinaan di tingkat akar rumput.

Dalam konferensi pers setelah pertandingan pertama melawan China, pelatih Nova Arianto secara tidak langsung menyebut kalau kualitas intensitas permainan di kompetisi EPA belum selevel dengan negara-negara top Asia.
“Menurut saya para pemain sudah berjuang sangat maksimal dan itu yang saya ingin lihat dari pemain agar pemain bisa belajar, belajar dari pertandingan hari ini apa yang harus kami perbaiki karena secara level intensitas berbeda dengan apa yang selama ini pemain dapatkan,” kata Nova Arianto.
“Mungkin di Kompetisi EPA, pemain masih bisa survive saat melakukan kesalahan-kesalahan, tapi kalau dengan lawan-lawan seperti China kesalahan sedikit saja akan menjadi masalah bagi tim. Saya mengucapkan terima kasih atas perjuangan semua pemain. Banyak catatan yang harus kami perbaiki agar ke depannya para pemain bisa lebih siap lagi di Piala AFF maupun Piala Asia,” ucap Nova Arianto.